Banda Aceh – SMAN 10 Fajar Harapan Unggul Garuda Transformasi Aceh menerima kunjungan istimewa dari sastrawan nasional Taufiq Ismail bersama rombongan penyair, Senin (27/4). Turut hadir mendampingi, penyair LK Ara beserta istri. Kegiatan ini juga dihadiri Kabid SMA Dinas Pendidikan Aceh, Syarwan Joni, M.Pd, yang mewakili Kadisdik Aceh, dan Pengawas Pembina Samsul Bahri, M.Ed. Acara berlangsung hangat dipandu oleh Fikar W. Eda.
Kehadiran Taufiq Ismail dan istri, serta LK Ara bersama istri, memberikan suasana akrab sekaligus menjadi motivasi bagi siswa untuk lebih mencintai sastra dan meningkatkan budaya literasi.
Dalam sesi berbagi, Taufiq Ismail menceritakan kedekatannya dengan Aceh. Kunjungan pertamanya ke Tanah Rencong terjadi pada 1985, dilanjutkan pada 1986 saat ia menjelajahi Jabal Ghafur hingga Takengon. Pada 2001, ia kembali hadir bersama W.S. Rendra, Emha Ainun Nadjib, dan Helvy Tiana Rosa. Pascatsunami, ia pun sempat membacakan puisi di Masjid Raya Baiturrahman sebagai bentuk empati dan penghormatan bagi masyarakat Aceh.
Ia menegaskan peran penting Aceh dalam sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, penjajahan yang panjang dan menguras kekayaan negeri ini dilawan oleh rakyat Aceh sebagai pelopor. Perlawanan yang awalnya sporadis kemudian tumbuh menjadi gerakan yang membakar semangat di seluruh Nusantara.
“Bangsa ini belajar dari Aceh,” tuturnya. Ia menambahkan, perjuangan tidak hanya lewat senjata, tetapi juga melalui tulisan. Ia mencontohkan Ali Hasjmy, sastrawan Aceh yang melawan penjajah dengan pena sekaligus tokoh penting dalam kancah nasional.
Taufiq Ismail juga mengenang puisinya berjudul Acehku yang ditulis pada 2005 dan dibacakan di Aceh setahun kemudian sebagai penghormatan atas keteguhan daerah ini. Ia pun mengangkat Hikayat Prang Sabi karya Tgk Chik Pante Kulu dari abad ke-19, yang selama puluhan tahun hidup di tengah masyarakat dan kerap dibacakan sebelum pasukan turun ke medan perang.
Acara semakin khidmat saat LK Ara membacakan puisi Jika Taufiq Ismail Membaca Puisi di Gunongan. Puisi tersebut melukiskan Aceh sebagai tanah yang menyimpan luka, kenangan, dan harapan. Hamzah Fansuri seakan hadir dari masa silam, sementara hujan digambarkan sebagai bait-bait dari langit.
Taufiq Ismail turut membacakan puisi berisi nasihat orang tua kepada anak yang beranjak dewasa, serta puisi Palestina, Bagaimana Bisa Kami Melupakanmu. Pada sesi diskusi, ia berbagi tips menulis puisi: banyak membaca, berdiskusi, dan menulis dengan konsisten tanpa terburu-buru menerbitkan karya.
Ia juga memotivasi siswa dengan kisah masa mudanya saat lolos seleksi beasiswa ke Amerika Serikat pada 1956 dan meraih peringkat pertama. Pengalaman itu ia jadikan penyemangat agar siswa terus belajar dan berani menggantungkan cita-cita setinggi mungkin.
Menutup pertemuan, ia berpesan bahwa inspirasi dapat digali dari nilai-nilai Al-Qur’an. Ia mencontohkan puisinya Ketika Tangan dan Kaki Berkata yang kemudian diaransemen menjadi lagu oleh Chrisye.
Kegiatan berakhir dengan pembacaan puisi Rawa Puing di Lhoknga oleh Bunda Hanifah Formati Aceh, menambah suasana reflektif dan haru bagi seluruh peserta.
